50 Kata Kata Caption Pendaki Gunung yang Arif dan Romantis

50 Kata Kata Caption Pendaki Gunung yang Arif dan Romantis

Mendaki gunung ialah perjalanan yang paling melawan sekalian membahagiakan. Tetapi mendaki gunung itu tidak segampang yang kita bayangkan. Jadi seorang pendaki gunung diperlukan semangat, tekad, usaha keras, tidak mudah menyerah, dan perjuangan. Tetapi saat kita telah capai pucuknya, semua perjuangan itu akan terbayar dengan keelokan panorama alam dari pucuk gunung. Ada beberapa gunung dengan keelokan panoramanya, seperti Gunung Merapi, Gunung Bromo, Gunung Prau, Gunung Lawu, Gunung Semeru, Gunung Besar, sampai Gunung Everest.

Perjalanan mendaki gunung memang memberi kita banyak pelajaran kehidupan. Mendaki gunung mewakilkan motivasi kerja keras untuk capai keelokan dipucuk paling tinggi. Kita harus berusaha susah payah naik gunung dimulai dari dasar gunung yang paling bawah (paling rendah) sampai ke pucuk gunung (paling tinggi) cuman untuk maksud intinya, yakni nikmati keelokan alam di atas gunung.

Sama dengan kehidupan, kemungkinan kamu mempunyai cita- arah hidup dan cita. Tetapi seperti mendaki gunung, kita tidak dapat bypass langsung ke pucuknya. Kita tentunya harus mengawalinya dari bawah, selanjutnya berproses dan pelan-pelan ke arah pucuk.

Jadi saat kita dapat nikmati prosesnya, kadang itu akan memberi kita arti perjuangan. Kita dapat semakin pahami dan menghargakan tiap proses dalam perjuangan. Dan ini sebenarnya lebih bernilai dibanding nikmati keelokan di pucuk gunung.

Sama dengan kata-kata gunung di bawah ini, sebetulnya arti gunung itu tidak dapat diutarakan cukup dengan kata-kata mengenai gunung saja. Tetapi kata-kata gunung ini sebagai wujud rasa sukur kita atas nikmat Tuhan yang tidak ada batasan. Berikut kata-kata caption pendaki gunung yang cepat penuh makna.

Kata Kata Percobaan2URL Mengenai Gunung

Ikuti saya mendaki, karena itu kau akan mengetahui karakterku. Dan ikuti saya mendaki, karena itu kau akan mengetahui bagaimana saya jagamu.

Dunia ini selebar cara kaki. Telusuri dan jangan sampai takut mengambil langkah, cukup dengan itu kita dapat pahami bersatu dengannya dan kehidupan.

Kamu mendaki gunung dengan kemauan bukan lantaran ngotot.

Mendaki gunung menolong belajar menghargakan kehidupan.

Tiap pucuk gunung bisa dicapai bila Anda terus mendaki.

Saya mengetahui jika saat di pucuk gunung, ada gunung yang lain lebih tinggi.

Gunung ialah awalnya dan akhirnya semua panorama alam.

Pantai itu membahagiakan, dan gunung itu menentramkan.

Bila gunung itu menurutmu tinggi, lantas bagaimanakah dengan langit?

Makin tinggi Anda mendaki di gunung, makin deras angin yang bertiup.

Panorama terbaik tiba sesudah pendakian yang paling susah.

Duka cita hanya batu penghambat, saat kau tidak berbahagia, kerikil juga seperti terlihat gunung.

Hidup ini ibarat mendaki gunung, Melalui dari bawah dan terus mendaki, hingga kemudian capai pucuk.

Bila anda tidak bisa mengalihkan gunung itu, alihkan batunya sedikit untuk sedikit.

Seorang yang mendaki gunung ialah, seorang yang mengusung batu-batuan kecil ke pucuk secara bertahap.

Mendaki gunung itu sebuah arah, arah kita sampai ke pucuk paling tinggi seperti kita tentukan arah hidup kita.

Cukup dengan penuh kepercayaan kita sanggup mengalihkan gunung, tetapi tanpa penyiapan kita dapat terganjal oleh kerikil.

Kita tidak pernah sanggup menaklukan gunung, karena bukan gununglah yang kita taklukan, tetapi kita sendiri.

Gunung di muka mata bukan sebagai kendala, tetapi batu kecil di sepatu yang menghalangi kita.

Mendaki gunung mengajari kita untuk pahami dan belajar untuk merendahkan arogan.

Kita mendaki gunung, supaya kita dapat menyaksikan dunia ini terhampar luas. Bukan kebalikannya, supaya dunia menyaksikan kita.

Bila watak individu kita ialah sebuah gunung, rekam jejak ialah bayang-bayang dari gunung itu.

Orang yang berasa takjub ke ketinggian gunung, tidak pernah menghitung tingginya.

Tidak boleh menyepelekan kekuatan anda untuk mendaki pucuk gunung paling tinggi saat sebelum anda usaha mendakinya ditambah dulu.

Pucuk gunung tidak dapat diraih cukup dengan melihatnya dari kejauhan.

Pengalaman itu tidak pada pucuknya namun pada perjalanannya.

Ya, perjalanan ke gunung memang memberi pengalaman bernilai tertentu, di mana Kamu dapat berteman dengan alam, bahkan juga mendapati seorang yang betul-betul menjadikanmu teman dekat.

Mendaki gunung ialah perjalanan untuk tinggalkan kesombongan diri. Karenanya ini kita jadi memahami jika di atas yang tinggi masih tetap ada yang lebih tinggi.

Tidak boleh buang ini hari dgn mencemaskan hari esok. Gunung juga berasa datar saat kita sampai di pucuknya.

Seperti mendaki gunung, tunduklah saat mendaki, tegaklah saat turun.

Bila hatimu ialah sebuah gunung berapi, bagaimana dapat kamu menginginkan bunga untuk mekar?

Ada beberapa jalan ke arah pucuk gunung kehidupan, tetapi cuman ada satu jalan untuk turun.

Hidup itu ibarat Gunung, selalu lebih jauh, semakin tinggi serta lebih berat medannya dibanding yang kelihatan.

Tidak boleh ukur ketinggian gunung saat sebelum capai pucuknya. Kemudian kamu akan melihat begitu rendahnya gunung yang sudah didaki.

Untuk saya, pendakian gunung ialah seperti minum dan makan. Saya wajib melakukannya, itu sisi dari hidup saya.

Perjalanan hidup memang seperti gunung. Saat belum capai pucuk, karena itu Kamu belum bisa turun.

Gunung ialah pemuasan terbaik saat kita ada di titik jemu dan membutuhkan semangat baru.

Menuruni gunung memang lebih gampang dibanding mendaki, tapi keelokan bukan kelihatan di bawah, tetapi di saat kita ada di pucuknya.

Hidup seperti gunung, cantik dari kejauhan. Dipepet melawan, didaki perlu kemampuan.

Gunung tak perlu menerangkan jika dianya tinggi.

Tidak penting berapa banyak pucuk gunung yang sudah kau taklukan, kau teruslah pecundang bila egomu sendiri tidak dapat kau taklukan.

Pantai dan gunung memanglah tidak mempunyai kemiripan. Tetapi kenalilah di antara pantai dan gunung, kita mempunyai arah yang serupa, menunggu sunset.

Mendakilah gunung bukan agar dunia bisa melihatmu. Tetapi, mendakilah agar kamu bisa menyaksikan dunia.

Pada akhirannya, ketahui saja, kita tidak akan selama-lamanya berada di pucuk gunung. Tiap yang naik harus turun. Tiap yang pergi harus berpulang. Semuanya ada masanya.

Penjelajahan hanya mengenai kerendahan hati, bukan mengenai pembuktian diri atau harga.

Semesta alam ini mempunyai batasan. Tetapi makna yang dapat diambil, tidak terbatas.

Memang lidah tidak bertulang, tidak terbatas kata-kata. Tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati.

Karena tidak ada gunung yang terlampau tinggi dan tidak ada laut yang terlampau dalam.

Bukan seberapa banyak gunung yang sudah kalian daki, tetapi telah seberapa banyak pelajaran yang kalian peroleh dari pendakian itu.

Orang tinggi hati itu seperti orang yang berdiri di atas gunung. Ia menyaksikan seseorang kecil. Tetapi ia tidak sadar, seseorang menyaksikan dianya kecil.

Kehidupan itu ibarat mendaki gunung. Untuk capai pucuknya, kita harus berjuang. Dan ketika telah di pucuk, kita tidak akan berkunjung di pucuk itu selamanya.

Kau akan jatuh hati pada suatu gunung. Untungnya, cintamu pada gunung tidak akan membuat sakit. Cuman akan menyiksamu saat kau berasa rindu.

Kita berbahagia menyaksikan panorama alam di gunung karena melalui alam dimasukkan ketenangan dan kesejukan ke hati. Melalui alam kita diberikan jika kita hanya makhluk kecil dan semua persoalan hidup.

Dan jangan sampai kamu berjalan pada muka bumi ini dengan tinggi hati, karena sebenarnya kamu sesekali tidak bisa tembus bumi dan sesekali tidak sampai dengan tinggi gunung. (QS Al Isra:37)

Komentar